Video ini diambil ketika saya menonton langsung pertandingan final leg kedua final Piala AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010. Bayangkan Anda berada di antara 95 ribu lebih penonton di SU GBK, Anda akan menjadi orang paling bangga berbangsa Indonesia!

..

selamat datang di Pulau Tidung

selamat datang di Pulau Tidung

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan berkunjung lagi ke Ibukota Jakarta. Perjalanan ini cuma selisih sekitar satu minggu setelah menyelesaikan perjalanan di Papua. Lagi banyak uang? bukan. Seperti biasa, perjalanan dibayari, hehe. Kali ini mendapat sokongan dana tiket perjalanan dari keluarga. Dengan tujuan awal menemani kakak yang  menghadiri workshop di Jakarta, pasti aku bisa mencuri waktu menyusuri salah satu wisata alam yang sepertinya sangat jarang ditemui di Ibukota ini.

Perjalanan dimulai dari kota kelahiran, Kediri. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya diputuskan naik armada bus Rosalia Indah. Lumayan dengan tiket Rp 120.000,- sudah sampai di ujung Jakarta, tepatnya di Tangerang, dengan harapan masih bisa transit di rumah saudara.

Sesampainya di sana, belum ada plan mau kemana, dan sendirian sementara kakak akan memulai workshopnya, aku segera merancang strategi. SMS ke hampir semua nomor teman yang berdomisili di Jakarta, yang memiliki waktu luang saat weekend. Akhirnya ada seorang teman lama yang mau diajak menghabiskan waktu di kepulauan sebelah utara Jakarta, tepatnya di Pulau Tidung. Beruntung, temanku ini berhasil mengajak tiga teman lainnya untuk gabung.

Hari keberangkatan telah datang. Mengambil meeting point di kawasan Muara Angke. Busset, banyak sekali ternyata wisatawan yang juga mau menyeberang, ada puluhan bahkan mungkin ratusan. Beberapa merupakan wisatawan asing. Setelah hampir menempuh perjalanan laut selama kurang lebih tiga jam, akhirnya sampai di Pulau Tidung.

suasana di dalam kapal

suasana di dalam kapal

Ternyata di sini fasilitas sudah lumayan lengkap. Banyak sekali homestay. Sepeda merupakan salah satu alternatif cerdas untuk mengeksplor Pulau ini. Setelah singgah beberapa saat di homestay. Kami tidak mau berlama-lama berdiam diri, langsung menuju beberapa spot snorkeling di sana, ada dua spot di beberapa pulau sekitar. Overall masih lumayan bagus, meskipun karang-karang sudah nampak berwarna cokelat dan tandus yang menunjukkan sudah mati, namun di beberapa titik masih bagus. Masih banyak juga ikan-ikan yang berkeliaran kesana-kemari. Ketika aku membawa cuilan roti, mereka menghampiri tanpa rasa takut. Susah dibayangkan ada tempat seperti ini di wilayah Jakarta.

merapat ke Tidung

merapat ke Tidung

snorkeling di laut yang jernih

snorkeling di laut yang jernih

cukup jernih, jarak pandang jelas

cukup jernih, jarak pandang jelas

banana boat memacu adrenalin

banana boat memacu adrenalin

Selesai snorkeling kami mengeksplor  Pulau Tidung via darat, dengan sepeda kayuh yang banyak disewakan disana. Menuju Jembatan Cinta. Jembatan ini cukup panjang, sekitar 1-2km. Wisatawan bisa dengan jelas melihat sunrise dan sunset dari tempat ini. Jembatan ini menghubungkan dua pulau. Entah kenapa dinamakan Jembatan Cinta, bahkan aku pun tidak menemukan cinta di sini, hehehe.

jembatan cinta itu

jembatan cinta itu

menuju pulau seberang

menuju pulau seberang

anak-anak lokal bermain

anak-anak lokal bermain

banyak tersedia sepeda, untuk berkeliling Tidung

banyak tersedia sepeda, untuk berkeliling Tidung

Setelah menikmati sunset kami bergegas kembali ke homestay, setelah itu bergabung dengan wisatawan lain di pinggir pantai untuk pesta barbeque ramai-ramai. Suasana cukup meriah di sini. Beraneka jenis ikan bakar dan cumi-cumi cukup membuat kenyang malam itu. Setelah itu kami segera beristirahat. Keesokan harinya kami masih bisa menikmati sunrise di Jembatan Cinta sebelum kami menyeberang kembali ke Ibukota Jakarta.

sunset dari Jembatan Cinta

sunset dari Jembatan Cinta

suasana BBQ party di tepi pantai

suasana BBQ party di tepi pantai

ikan bakar, siap dinikmati

ikan bakar, siap dinikmati

Bagi yang pengen sekejap menghilangkan penat di Ibukota, Pulau Tidung cukup memeberikan nuansa berbeda dikala weekend, sebelum kembali ke rutinitas yang ada. Jakarta est belle aussi.

Bienvenue a Manokwari!

Posted: July 9, 2011 in Uncategorized
selamat datang di Manokwari

selamat datang di Manokwari

 

Liburan semester ini berasa sangat istimewa. Aku berkesempatan untuk mampir di provinsi paling timur di Indonesia, Papua. Pulau yang mungkin banyak orang berpikiran bahwa daerah ini masih dipenuhi hutan, dan jauh dari suasana perkotaan. Salah.

Di sini aku menetap di kota Manokwari, Ibukota Propinsi Papua Barat. Hal yang mendasari aku pergi ke sini adalah adanya kesempatan langka dari kakakku, jalan-jalan ke Papua gratis! Kapan lagi coba pergi ke Papua dengan merogoh kocek seminim mungkin.hehehe. Kesan pertama yang aku rasakan di sini, udaranya enak, tidak panas dan berangin. Maklum, Manokwari terletak pada kontur pegunungan yang berbatasan dengan laut. Bisa dibayangkan bukan, perpaduan menarik antara pegunungan dan udara pantai?

salah satu tugu selamat datang di Manokwari

salah satu tugu selamat datang di Manokwari

langsung disambut anak-anak setempat

langsung disambut anak-anak setempat

Kota Manokwari lumayan ramai, fasilitas yang terdapat di sini pun cukup lengkap, bandara Rendani, Pelabuhan PELNI Manokwari, hotel cukup banyak, dan beberapa pusat perbelanjaan. Satu hal yang menarik, di sini banyak sekali pendatang dari Jawa. Hampir di setiap penjuru kota terdengar percakapan dalam bahasa Jawa. Pun begitu ketika mampir di warung makanan, mereka kebanyakan sudah tahu kalau aku dari Jawa. “Maem opo mas? Piro Mas?” -–a.

Manokwari dilihat dari daerah perbukitan

Manokwari dilihat dari daerah perbukitan

Lalu lintas di sini cukup ramai, meskipun tidak bisa dibilang padat. Salah satu alat transportasi yang populer di sini adalah ojek. Pengendara sepeda motor dengan helm warna kuning, itu ciri khas ojek di sini. Jangan heran kalau di sini banyak sekali ojek. Fleksibel dan murah. Tarif dalam kota, dekat Rp 3000 jauh Rp 6000. Dengar-dengar omzet mereka per harinya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Berminat?

ciri khas ojek di sini, helm kuning

ciri khas ojek di sini, helm kuning

salah satu sudut jalan di Manokwari

salah satu sudut jalan di Manokwari

pegunungan Arfak nampak dari jalanan

pegunungan Arfak nampak dari jalanan

pelabuhan PELNI dari atas kapal Labobar

pelabuhan PELNI dari atas kapal Labobar

Selain itu di sini juga banyak babi dan anjing berkeliaran. Keberadaan mereka sangat dihargai di sini. Mereka bebas berkeliaran di jalanan. Hati-hati kalau berkendara di jalan. Menabrak ayam berarti Anda harus siap kehilangan kocek Rp 100.000, menabrak anjing atau babi harus siap ganti rugi antara 1 juta sampai beberapa puluh juta. Bagus juga sih, agar pengguna jalan semakin hati-hati ketika berkendara, tidak kebut-kebutan.

babi ini dengan bebas menyeberang jalan raya

babi ini dengan bebas menyeberang jalan raya

anjing ini juga bebas berkeliaran

anjing ini juga bebas berkeliaran

Hal lain yang menarik adalah toko kelontong. Kebanyakan toko kelontong di sini seperti toko kelontong pada umumnya, namun diberi sekat semacam tralis kawat. Jadi ada semacam ruang kawat yang dilubangi untuk transaksi. Menghindari pencurian ketika toko di tinggal mungkin, ya?

pelanggan salah satu kelontong, dibatasi tralis kawat

pelanggan salah satu kelontong, dibatasi tralis kawat

kelontong lain, begitu khas

kelontong lain, begitu khas

Salah satu obyek wisata di sini adalah Pantai Pasir Putih. Pantainya lumayan indah, pengunjung cukup banyak. Dari sini nampak pulau Mansinam, yang juga menjadi salah satu obyek wisata di Manokwari.

menuju Pantai Pasir Putih

menuju Pantai Pasir Putih

hamparan pantai pasir putih

hamparan pantai pasir putih

anak ini kelak akan menjadi Ian Thorpe :)

anak ini kelak akan menjadi Ian Thorpe :)

mereka mengisi liburan dengan memancing

mereka mengisi liburan dengan memancing

Pulau Mansinam nampak dari Pantai Pasir Putih

Pulau Mansinam nampak dari Pantai Pasir Putih

Sebuah kota yang indah dan nyaman di bagian timur Indonesia. Jadi, pace, mace, tanta, kakak, adek, tong samua, mari berkunjung ke sini, Bienvenue a Manokwari!

 

next      :       The Magnificent Raja Ampat

 

 

Mercredi, Avril 27 2011

Dunia ini adalah soal hidup dan mati. Dunia ini adalah antara fana, dan nyata.  Dunia ini adalah sebuah idealisme, yang bisa diberi makna berbeda oleh setiap orang.

1 Januari 1982, lahir seorang anak dari bapak yang fenomenal. Galang Rambu Anarki. Begitu besar harapan seorang Iwan Fals terhadap anaknya hingga ia menciptakan sebuah lagu, yang secara tersirat nampak jelas keraguan, kegundahannya menyambut sang anak pertama, yang akan menjadi penerus generasinya. Namun apa daya, umurnya tidaklah panjang.25 April 1997 dia mati. Mati di atas harapan kedua orang tuanya. Mati bersama angan-angan seorang Iwan untuk melihat garis keturunannya di bumi ini.

 galang muda (taken from google)

galang muda (taken from google)

“Galang Rambu Anarki anakku

Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu

Galang Rambu Anarki -Iwan Fals

Soe Hok Gie. Aktivis di tahun 70’ an pernah menulis dalam catatan hariannya yang beberapa waktu lalu dipublish dalam sebuah buku. Ia adalah seorang pemikir handal. Meskipun aku tidak terlahir pada masanya, dan tidak pernah berjumpa dengannya, namun tulisannya mensaratkan bahwa pemikirannya melebihi usianya. Dan seperti kutipannya, dia mati muda. Dia mati pada umur 27 kurang sehari, dalam perjalanannya menuju puncak semeru, dimana dia berencana merayakan ulang tahunnya di sana.

Gie Muda (taken from google)

Gie Muda (taken from google)

 “Seorang filsuf Yunani pernah menulis, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Gie dalam Catatan Seorang Demonstran

Galang dan Gie, kedua orang tersebut,  mati dengan idealismenya. Mereka meninggalkan kisah bagi semua orang. Meskipun mereka semua mati muda, mereka mampu mempertahankan idealismenya yang begitu kuat. Mereka mengubur cita-citanya dalam-dalam oleh usia.

Tepat di tanggal ini 22 tahun silam, aku dilahirkan. Dengan kondisi perekonomian seadanya, orang tuaku berusaha memberikan yang terbaik untukku meski dalam keterbatasan. Susu SGM cukup sebagai suntikan nutrisi kala itu. Seiring waktu berjalan, harapan-harapan orang tuaku semakin besar terhadapku, aku melihatnya demikian. Namun sampai saat ini, aku belum bisa banyak berbuat. Aku belum mampu membentuk idealisme, seperti Galang dan Gie. Namun setiap harapan itu masih ada. Semua soal waktu teman.

bapak dan ibu nomor satu di dunia

bapak dan ibu nomor satu di dunia

Bapakku adalah ayah nomor satu di dunia. Ibukku adalah Ibu nomor satu di dunia. Dan kelak mereka akan melihat seorang anak nomor satu di dunia! Vivre l’apriliatista, hidup orang-orang yang lahir di bulan april!

Mercredi, Avril 13 2011

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk si penyandang pakta abadi, edelweiss. Edelweiss itu nampak tua, renta, kering, dan suatu ketika rontok tidak kuat menopang bunga-bunganya yang berguguran. Sebenarnya dia telah mati. Dia menunggu rusak tubuhnya oleh hembusan angin. Keabadiannya hanyalah semu, dongeng.

edelweiss itu telah mati

edelweiss itu telah mati

“Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah dan hadapilah

Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara

Aku terima itu semua … “

Hok Gie – 1966


Ketika kemauan dan realita tidak berjalan selaras, yakinlah bahwa di depan tanjakan ini terdapat edelweiss – edelweiss semu yang bermekaran. Meskipun mereka akan mati, masih akan ada keindahan yang ditebarkannya. Keindahan yang melebihi pakta keabadiannya. Séjour de la randonnée, vivre L’apriliatista.

Mercredi, Janvier 5, 2011

Jam tepat menunjuk pukul 05.05 ketika aku terbangun oleh teriakan ibuku. Ya, hari ini, aku harus segera kembali ke Surabaya, tempat dimana aku seharusnya berada selama beberapa minggu terakhir ini. Kecuali karena suatu alasan, mungkin saat ini aku sudah di Surabaya, kuliah, kuliah, dan kuliah. Namun takdir berkata lain, aku di tempat lain. Tempat yang menyimpan memori indah untukku di awal sekaligus akhir tahun. Aku tidak segera bergegas bangun pagi ini, baru selang sekitar sepuluh menit kemudian baru aku tersadar, dan segera ke kamar mandi, tanpa mandi.

Hari ini, aku memilih kereta api ekonomi untuk kembali ke perantauan. Bukan kenapa-kenapa, cuma alasan menghemat saja. Bayangkan, untuk jarak tempuh sekitar 116 km (aku lihat dari papan yang tergantung di atap stasiun), aku cukup membayar Rp 5.500,- saja. Cukup bisa dijangkau semua kalangan. Stasiun nampak tidak begitu ramai, mungkin karena hari ini hari Rabu, belum banyak orang yang bepergian. Hati lumayan tenang, paling tidak kesempatan mendapat tempat duduk di kereta nanti lumayan besar. Mengingat ini kereta ekonomi dimana semua penumpang harus saling berebut tempat.

kereta itu .. (ilustrasi dari google)

kereta itu .. (ilustrasi dari google)

rapih dhoho, langgananku ketika masih mahasiswa baru (diambil dari google)

rapih dhoho, langgananku ketika masih mahasiswa baru (diambil dari google)

Ketika pengeras suara mengumumkan bahwa kereta datang, aku segera mengambil tempat di pinggir rel di stasiun, di jalur nomor satu. Aku segera naik dengan cepat ke atas gerbong ketika kereta berjalan lambat, kemudian langsung memilih tempat. Tidak berapa lama, bangku sebelah juga ada yang mengisi. Nampaknya satu keluarga. Seorang bapak, ibu, dan dua orang anak. Yang satu perempuan, kira-kira belum genap satu tahun, satunya lagi laki-laki sekitar tiga tahun. Kesan pertama melihatnya, mereka begitu akrab dan harmonis. Ketika sang ibu sibuk menggendong anak perempuannya, sang ayah dengan sabar momong si anak laki-laki. Nampak sekali raut kesabaran dari kedua orang tua itu. Karena si ibu dan anak nampak kepanasan terkena sinar matahari, sang ayah menyuruhnya pindah dan duduk di sebelahku. Belum lama si ibu yang menggendong anak berada di sebelahku, anaknya batuk-batuk, dan muntah. Sepertinya dia sakit. Muntahannya mengenai celana jins biruku. Si ibu spontan meminta maaf padaku, dan meneriaki suaminya minta tolong. Si ayah kemudian mengelap celanaku yang kotor, tapi aku menolak, aku membersihkannya sendiri. Biarlah mereka menolong anak perempuannya, pikirku. Kemudian sang ayah mengambil tissue dari tasnya, mengelap dengan sabar bekas-bekas muntah anaknya yang tercecer, kemudian mengambil obat batuk, diminumkanlah ke anaknya. Lucu sekali anak itu, masih begitu kecil dan polos, kemudian dia menangis, mungkin takut ketika akan minum sirup obat batuk itu. Sang kakak kemudian bilang, “Ga pa pa dek, nih liat kakak minum”. Diminumlah obat itu oleh si anak laki-laki, entah terpengaruh, si anak bungsu kemudian mau meminumnya. Kemudian formasi berubah lagi, mereka duduk sebangku, takut terjadi apa-apa mungkin kepada anaknya. Ketika si anak mulai tenang, nampak kecerahan di wajah orang tua itu, aku tahu benar ketenangannya saat itu. Entah kebetulan atau tidak, sepertinya aku dipaksa menyaksikan momen ini, bersamaan dengan kejadian itu ada lagu yang tidak asing di telingaku, dimainkan lewat handphone seseorang penumpang lain, namun terdengar jelas sekali :

“Galang rambu anarki anakku

lahir awal januari menjelang pemilu

galang rambu anarki dengarlah

terompet tahun baru menyambutmu

galang rambu anarki ingatlah

tangisan pertamamu, ditandai bbm membumbung tinggi

maafkan kedua orangtuamu

kalau tak mampu beli susu

bbm naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi

mungkin bayi kurang gizi

galang rambu anarki anakku,

cepatlah besar matahariku

menangis yang keras, janganlah ragu

tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

doa kami di nadimu …

(Galang Rambu Anarki – Iwan Fals)

Benar-benar suatu kebetulan, momen yang pas, antara kejadian di depan mata, dengan suasananya, iringannya. Mungkin, itulah semua yang diharapkan orang tua kepada anaknya, mendapatkan yang terbaik untuk anaknya, bagaimanapun caranya, asal mereka bahagia.

Tidak berapa lama, ada asongan penjual topi. Ketika sang penjual membagikan ke seluruh bangku, termasuk ke bangkuku, dan juga keluarga tadi, sang ayah melihat-lihat sejenak topi warna biru dongker yang dibagikan kepadanya. Jelas sekali terdengar dari teriakan sang penjual bahwa harganya Rp 5000,-. Tidak lama dipakaikanlah topi itu ke kepala sang anak sulung. Kemudian dia tersenyum, spontan berkata, “pantas nak”. Dibelilah topi itu, sang ayah nampak puas, anak sulung dan ibunya nampak senang, sedang si anak bungsu nampaknya sudah tertidur terpengaruh obat.

Sungguh suatu keadaan yang sempurna, di tengah segala keterbatasan, mereka mampu menghadirkan kegembiraan di tengah keluarganya. Bayangkan, mungkin di sisi lain, di saat keluarga lain sibuk membelikan anak-anaknya sebuah handphone canggih, mereka cukup membelikan sang anak sebuah topi seharga Rp5000,-, namun kepuasan yang didapat, melebihi segalanya, membawa kebahagiaan. Ahh…

kedamaian ada di mana-mana, the colour of peace

kedamaian ada di mana-mana, the colour of peace

Kereta api ini berjalan merangkak, pelan. Kereta dengan nama Rapih Dhoho ini nampak cukup tua, toilet-toilet sudah nampak kotor dan tidak berfungsi. Jumlah gerbong ada sekitar 7-8. Di dalam gerbong nampak cukup luas, di atas pintu aku sempat melihat bahwa kapasitas penumpang seharusnya adalah 106 orang. Meja-meja di antara kursi sudah banyak yang lepas, kipas angin yang berada di atap kereta nampak rusak, penuh sarang laba-laba. Lampu neon juga banyak nampak yang rusak, patah, lepas. Aku tahu, di dalam ruangan ini pasti banyak menyerap lapangan pekerjaan. Mulai dari restorasi kereta api, asongan, dan pengamen. Banyak yang menggantungkan kehidupannya pada benda usang ini. Aku sempat berpikir, tolong pertahankan keadaan seperti ini, meskipun nampak berat bagi penumpang ketika harus naik kereta ekonomi, di sinilah nampak kehidupan yang begitu keras. Bekerja siang-malam untuk keluarga di atas kereta. Biarlah aku dan orang-orang memilih ketidak-nyamanan ini. Biarkan aku dan mereka menjalankan kehidupan yang keras, di atas tempat ini. Tak lama setelah itu, kereta sampai di stasiun Kertosono.  Aku buru-buru menitipkan tempatku pada orang lain, untuk beli nasi pecel Kertosono, yang sudah aku rindukan semenjak beberapa waktu lalu aku pergi ke Bandung (sekitar 18 Desember). Akhirnya setelah menerobos antrian, aku dapat nasi itu. Puas. Aku tahu benar taktik agar dilayani cepat. Dulu ketika masih mahasiswa baru, aku sering makan di sini. Sudah begitu lama, tak banyak berubah, masih enak dan fresh, beda dengan yang dijual di atas kereta. Aku buru-buru balik ke kereta ketika makanan habis. Tak lama setelah itu, keluar pengumuman dari pengeras suara, bahwa kereta masih belum siap berangkat, mogok, menunggu perbaikan. Buseet ..

Beberapa menit kemudian kereta berangkat, telat. Menuju ke stasiun Jombang, penumpang makin padat, banyak yang berdiri. Sampai stasiun Mojokerto, makin parah lagi, sangat padat, makin banyak yang berdiri, susah bila harus berjalan di lorong kereta. Padahal tertulis kapasitas penumpang 106, aku yakin mencapai 140 an. Inilah kereta ekonomi, dengan segala kekurangannya, masih menjadi daya tarik sendiri bagi banyak orang, banyak kalangan.

Ketika berangkat dari stasiun Mojokerto, ada asongan yang sedikit menarik perhatianku. Penjual buku. Bukunya bermacam-macam. Memasak, tuntunan shalat, dan sejenisnya. Ketika dibagikan ke seluruh bangku, ini benar-benar menarik perhatianku. Yang dibagikan kepadaku adalah dua buah buku dongeng. Aku masih ingat judulnya, “Dongeng Pengantar Tidur Putri Salju” dan Kumpulan Dongeng Binatang si Kancil”, semua tertera nama penulis Yudhistira Ikranegara penerbit CV Pustaka Agung Harapan Surabaya. Tertera harga Rp5000,- di sampulnya. Kenapa aku musti dapat buku seperti itu? Itu yang membuat menarik. Membuatku teringat seseorang. Seseorang yang beberapa hari belakangan mengirim cerita-cerita, dongeng-dongeng ketika malam hari, sebelum aku tidur. Membagikan cerita kehidupan, membagi kebahagiaan, menceritakan imajinasinya kepadaku. Begitu polos, namun tegas, cerdas. Aku akan dan terus belajar banyak darinya. Ahh andai dia belum ada yang memiliki, pikirku saat itu. Ketika menulis tulisan ini, sengaja aku memutar sebuah lagu, seperti ini liriknya:

“Pria mana yang tak suka

Senyummu juwita

Kalau ada yang tak suka

Mungkin sedang goblokEngkau baik

Engkau cantik

Kau wanita

Aku cinta

Mata indah bola ping pong

Masihkah kau kosong

Bolehkah aku membelai

Hidungmu yang aduhai

…Jangan marah kalau kugoda

Sebab pantas kau digoda

Salah sendiri kau manis

Punya wajah teramat manis

Wajar saja kalau kuganggu

Sampai kapan pun kurindu

Lepaskan tawamu nona

Agar tak murung dunia

Engkau baik

Engkau cantik

Kau wanita

Aku cinta

Aku puja

Kau betina

Bukan gombal

Aku yang gila”

(Mata Indah Bola Pingpong – Iwan Fals)

Haha, agak aneh memang, tetapi aku merasakan ada yang beda dengan dirinya, almost impossible to find girl like her. Nampaknya, aku musti mengatur nafasku ketika memikirkannya –lebay-.

“When it gets cold outside and you got nobody to love

You’ll understand what I mean when I say

There’s no way we’re gonna give up

And like a little girl cries in the face of a monster that lives in her dreams

Is there anyone out there cause it’s getting harder and harder to breathe”

Harder to Breathe – Maroon 5

sometimes we have to walk alone

sometimes we have to walk alone

Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Gubeng. Aku harus turun, meninggalkan benda usang ini, menuju ke kos jelek tercinta. Namun setelah turun, seperti biasa, aku duduk-duduk di ruang tunggu, merenung sebentar. Entah sudah mulai kapan aku melakukannya, belum lama. Aku segera keluar stasiun ketika sudah mulai tenang. Segera kuhampiri tukang becak di seberang stasiun, soalnya kalau musti naik yang di depan stasiun, pasti mintanya mahal. Ketika aku menghampirinya, orangnya langsung bilang,”Biasanya dikasih harga berapa, Mas?”, aku jawab, “Enam ribu,Pak”,”Yaudah deh, monggo naik”. Kooperatif sekali, tanpa tawar-tawaran seperti biasanya. Ketika di perjalanan, aku banyak ngobrol dengannya. Ternyata si tukang becak asli Mojokerto. Aku sedikit mengorek hidupnya, nyatanya responnya bagus. Dia menceritakan bahwa dia sudah hidup bahagia. Dikaruniai tiga orang anak. Yang satu sudah bekerja buka bengkel, yang satu SMP kelas 3, dan yang bungsu kelas 5 SD. Dia begitu senang menceritakan bahwa si anak sulung sudah mampu menghidupi kedua adiknya, sedangkan si bapak tukang becak, mengaku hanya membantu sedikit untuk makan anak-anaknya. Betapa mulianya. Datang jauh-jauh ke Surabaya, narik becak, demi anaknya, demi kebahagiaan keluarganya. Dia mengaku bersyukur masih bisa menarik becak untuk keluarganya. Subhanalloh. Sampailah aku di kos cat kuning ini, bersiap-siap ke kampus.

C’est la vie



Stay Backpacking : Street Nationalism (Jakarta)

Dimanche, Janvier 2, 2011 gerimis

Usai sudah perjalanan singkat ini. Semua berawal dari sebuah keinginan kuat untuk pergi ke ibukota Jakarta, yang awalnya hanya sebuah bentuk apresiasi nyata kepada sebuah tim sepakbola nasional, yang sudah lama merindukan kemenangan. Ketika itu, muncul pikiran untuk menjadi saksi mata kemenangan tim nasional Indonesia, setelah mengalahkan tim Filipina dengan agregat 2-0. Lawan selanjutnya, ya, Malingsia. Bangsa kontroversial yang diciptakan di bumi yang indah ini. Ah menarik nih lawan di final, pikirku. Pertandingan yang tentu saja akan menarik untuk ditonton, bukan hanya masalah permainannya, namun karena unsur politisnya, bahwa banyak sentimen negatif sejak dulu antar dua bangsa ini. Sama seperti yang berkecamuk di pikiranku. Andai dulu Bung Karno benar menghancurkan negeri itu, mungkin saja tidak ada tenaga kerja yang disiksa dan disengsarakan di sana, tidak ada budaya bangsa kita yang dicuri, tidak ada petugas perbatasan kita yang ditangkap dalam tugasnya menjaga perbatasan. Ah benar-benar kecewa dengan usaha diplomasi Marty Natalegawa saat itu, Anda terlalu banci bung, Anda seharusnya bisa bertindak lebih bijak dalam menghadapi seorang maling, karena ingat, pasti ada yang salah dengan seorang maling, kemungkinan melakukan hal yang sama (maling) bisa terjadi kapan saja, harusnya Anda memberi pelajaran tegas buat bangsa maling, agar kapok, agar mereka berhenti meremehkan kita. Jancok maling! Lihat cuplikan perkataan Bung Karno :

“Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu. Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya. Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo… ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia…

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!”

Kembali ke topik awal. Dengan semangat bonek, aku berangkat sendirian dari Surabaya ke Jakarta. Bukan karena tidak mengajak teman, tapi rencana awal gagal, gara-gara tiket final yang sangat susah didapat layaknya mencari minyak tanah di masa ini. Semua gara-gara panitia penyelenggara final di Gelora Bung Karno yang menurutku sangat tidak becus, sangat tidak profesional, tidak layak menyelenggarakan final sebesar ini! Katanya mau menyelenggarakan Piala Dunia? hahaha bodoh. Setelah percobaan pertama mendapatkan tiket gagal, akhirnya aku menghubungi salah satu sahabat lama di Jakarta untuk pesan tiket, dan alhamdulilah ternyata ada, dengan harga yang tidak masuk akal, tertera di tiket Rp 150.000,- dan harus aku tebus dengan Rp 275.000,- . Oh Tuhan.. aku tidak mempermasalahkan masalah percaloan, mereka juga manusia berhak mencari uang untuk makan, yang benar-benar aku sesalkan, seakan-akan panitia memang memberi celah untuk terjadi praktik percaloan ini. Ingat Bung, final AFF ini seharusnya untuk rakyat, untuk kegembiraan rakyat, untuk kebanggaan rakyat Indonesia, kapan lagi mereka bisa merasakan kebanggaan yang teramat sangat menjadi bangsa Indonesia kalau bukan pada momen-momen seperti ini, Masya Alloh, sungguh bangsa bedebah .. Kebahagiaan dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia ini harus ditebus sebegitu mahal, bayangkan, semua elemen masyarakat bangsa Indonesia membutuhkan kebanggan ini, bukan hanya pejabat, namun tukang becak, asongan, kaki lima, mahasiswa semua membutuhkan! Sebegitu susahnya kah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kebanggaan di negeri ini?? Masya Alloh..

Tekat sudah bulat, tiket sudah didapat, siap untuk berangkat. Pagi hari sekitar jam 8 pagi tanggal 28 Desember 2010, aku pergi ke Stasiun Gubeng untuk membeli tiket kereta ekonomi jurusan Surabaya -Jakarta, kereta Gaya Baru Malam Selatan, tiket cukup terjangkau, Cuma Rp 33.500,- untuk jarak tempuk sekitar 674 km dengan konsekuensi rebutan tempat, dengan yang bernasib sama, orang –orang modal cekak. Kesan pertama langsung didapat ketika pembelian tiket, Bapak petugas loket tanya “ Mau nonton bola, Mas?”, hahahaaa sial, emang aku pake tampang bonek ya beli tiketnya, tau aja si Bapak. Hahaha ..

tiket yang terpaksa harus ditebus seharga Rp 275.000,-

tiket yang terpaksa harus ditebus seharga Rp 275.000,-

tertulis di tag, harga resmi Rp 150.000,-

tertulis di tag, harga resmi Rp 150.000,-

Kereta berangkat pukul 14.00 kurang. Ketika aku sampai stasiun aku sempat kaget, buset banyak banget yang mau ke Jakarta, bisa gila ini kalau tidak dapat tempat duduk. Akhirnya dapat ide, melompat ke dalam kereta saat kereta masih jalan (cukup kencang, sampai aku terlempar berlawanan pintu toilet, dan aku yakin menjadi orang pertama yang masuk kereta, pertamaxxx gan! Hahahaa bonek banget). Setelah dapat tempat duduk paling potensial baru aku berpikir, berani sekali tadi bertindak seperti itu, aku ragu bisa melakukannya lagi, semua itu demi timnas Indonesia!

Di dalam kereta, setelah ngobrol kanan-kiri, dapet temen bicara yang enak, seorang sopir angkot di daerah Jakarta (aku lupa namanya). Baik sekali orangnya, baru aja beberapa menit masuk kereta, sudah dibelikan tahu goreng, pecel madiun, ditawari kopi, rokok, ah sial ternyata masih ada orang baik sekarang ini. Inilah yang aku suka, ketika naik kereta ekonomi. Seakan-akan persaudaraannya begitu kuat, semua bernasib sama, bertujuan sama, saling berbagi, saling menghargai sesama. Di malam harinya, lorong tempat jalan sudah penuh dengan orang tidur di bawah dengan alas koran, yang menarik, bahkan bagasi atas pun jadi tempat tidur! Hahahaa sungguh merakyat.

Setelah hampir menghabiskan 18 jam perjalanan di kereta, akhirnya sampai juga Stasiun Jatinegara. Ketika turun, aku baru sadar bahwa di gerbong paling belakang dan di kepala lokomotif, banyak orang memakai kaos timnas Indonesia, spontan aku teriak “sampai jumpa di GBK mas”, mereka dengan semangat, bersama penumpang lain berteriak “Pasti juara mas! Juara!”, dan seketika itu aku termenung, merasa bahwa aku menjadi orang yang paling bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia ini. Ketika turun juga, aku dicarikan angkutan yang paling murah oleh sopir angkot tadi, dan akhirnya diputuskan naik bajaj seharga Rp 15.000,-  (masih teringat perkataannya ke sopir bajaj “Mas tolong temen saya ini mau nonton bola dan duitnya tinggal Rp 15.000,-”, belum tau dia kalau aku bawa duit seratus juta, ahhaha bercanda.com). Akhirnya sampai Jl. Pramuka daerah Matraman, tempat kerja seorang teman, yang sejak sebelum datang ke Jakarta dan sepulangnya dari Jakarta, rela direpotkan oleh kehadiranku -terimakasih banyak teman,saya bangga mempunyai teman seperti Anda-. Setelah itu diantar ke kosnya, dan istirahat, menunggu sore.

Sore hari aku berangkat ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, dengan seorang teman yang baru aku kenal saat itu juga. Di jalan-jalan, banyak sekali supporter-supporter berangkat juga menuju GBK, begitu bersemangat. Sesampainya di GBK, benar-benar seperti lautan merah manusia,supporter dari berbagai penjuru Indonesia bersatu,mulai dari yang sudah dapat tiket, sampai ribuan orang juga yang tidak dapat tiket namun nekat datang ke GBK. Di sinilah nasionalisme benar-benar terpacu,bagaimana tidak, bayangkan bahwa ada suatu kondisi dimana orang-orang dari berbagai elemen masyarakat bersatu, dari pedagang asongan, kaki lima, pengangguran, mahasiswa, pejabat, dan presiden! Sungguh acara yang teramat langka, selain itu, kapan lagi keadaan dimana Bonek Surabaya, Aremania, Tha Jak, Viking, dan semua suporter dari tim-tim di Indonesia rukun bersatu saling menghargai, kalau bukan di even seperti ini!

para supporter menunggu masuk stadion

para supporter menunggu masuk stadion

Kamidia Radisti, dulu saya sangat ngefans sama dia (sampe sekarang --a)

Kamidia Radisti, dulu saya sangat ngefans sama dia (sampe sekarang --a)

menuju ke dalam stadion

menuju ke dalam stadion

suasana antrian masuk pintu gerbang luar

suasana antrian masuk pintu gerbang luar

sebagian kemegahan dari Stadion Utama Gelora Bung Karno

sebagian kemegahan dari Stadion Utama Gelora Bung Karno

Ketika aku masuk stadion, aku kagum, aku bangga, aku terharu, sampai juga aku disini dengan modal nekat. Sekitar pukul 16.00 stadion sudah lumayan penuh, padahal kick off dijadwalkan jam 19.00. Nah ini bagian yang amat berkesan, ketika kick off akan dimulai dan dikumandangkan lagu Indonesia Raya, sekitar 95 ribu penonton di dalam stadion (disebutkan panitia), dan ribuan yang di luar dan tidak kebagian tiket, menyanyi bersama lagu nasional ini, siapa yang tidak tergetar mendengar ratusan ribu orang menyanyikan lagu Indonesia Raya secara kompak bersama-sama! Benar-benar nasionalisme dari hati.

Anda akan menjadi seorang yang sangat bangga menjadi bagian dari Indonesia ketika berada di sini

Anda akan menjadi seorang yang sangat bangga menjadi bagian dari Indonesia ketika berada di sini

syahrini pun tak mau ketinggalan

syahrini pun tak mau ketinggalan

Pertandingan berlangsung, permainan yang cukup bagus untuk timnas, usaha yang cukup bagus juga, skor 2-1 buat Indonesia, meskipun kita tidak juara, kita seorang runner up yang terhormat, dengan supporter yang keseluruhan fair, dengan tim yang fair juga. Percuma juara, kalau berlaku curang, berlaku kampungan, maling akan selalu curang. Aku menyindir seorang bangsa. Tidak perlu melihat perayaan juara. Siapa rela **sensor**.

pemanasan sebelum kick off

pemanasan sebelum kick off

detik-detik ketika tendangan penalti Firman Utina gagal

detik-detik ketika tendangan penalti Firman Utina gagal

ketika tercipta gol kedua, inilah kemenangan kita bersama

ketika tercipta gol kedua, inilah kemenangan kita bersama

skor akhir, timnas telah melakukan yang terbaik

skor akhir, timnas telah melakukan yang terbaik

pesan dari suporter SELURUH INDONESIA

pesan dari suporter SELURUH INDONESIA

Keesokan harinya, aku sendirian ke sebuah warung. Di sana ngobrol dengan seseorang, yang nyatanya adalah seorang wartawan (lupa nama medianya). Kita bercerita tentang final kemaren. Dia sempat mengatakan ketika dia meliput, tempat yang seharusnya menjadi hak wartawan, banyak berubah. Bahwa banyak wartawan harus berdiri di tribun yang menjadi haknya, dan harus rela diisi dengan orang asing non wartawan, yang menurut dia keluarga pejabat. Bedebah! Beginikah keadilan di negeri ini! Kapasitas stadion yang seharusnya kurang lebih 85 ribu penonton, diumumkan di dalam stadion bahwa penonton di dalam stadion kali ini berjumlah 95 ribu, berada di mana dan dapat tiket dari mana yang 10 ribu orang?? Entahlah.

Setelah itu (30/12) aku mengajak teman untuk mengantar keliling jakarta,menelusuri ibukota yang katanya keras, lewat daerah-daerah yang sebelumnya cuma bisa dibayangkan dari TV, pemberhentian terakhir di Kota Tua, lumayan melepas penat, sempat beli cindera mata jalanan gara-gara teman setia yang menemani selama di Jakarta ini beli, ikutan deh. Dia beli awalnya aku kira untuk pacarnya, nyatanya tulisan yang ia buat : “ Damn! I love Indonesia ..” hahahaa nasionalisme tanpa batas, ingat bro, aku menyumbang tanda seru buat tulisan itu, hahaa. Sedangkan yang aku beli, tulisannya -rahasia donk-, lumayan nih buat iseng-iseng oleh-oleh. Setelah itu berangkat ke Bekasi, sial ternyata jarak begitu jauh, di luar perkiraan, kasihan juga yang nganter -maaf bro, saya beneran tidak tahu-.

seorang pedagang dari Purwokerto yang mengadu nasib ke Jakarta

seorang pedagang dari Purwokerto yang mengadu nasib ke Jakarta

Di jalan, di luar dugaan, aku melewati daerah yang tidak asing di mata dan pikiranku, Tugu Pancoran! Padahal sebelum berangkat, ada 3 spot yang setidaknya menjadi targetku. GBK, Pancoran, dan Kota Tua. Nyatanya semua terlaksana, komplit. Kenapa pengen melihat Tugu Pancoran? Terus terang dari kecil penasaran dengan lirik lagu Iwan Fals – Sore Tugu Pancoran, liriknya benar benar menyentuh hati, ketika melintasi Tugu itu, terus terang aku terharu, hampir berkaca-kaca, untungnya belum .. Cuplikan lirik Iwan :

“Si Budi kecil kuyup menggigil

Menahan dingin tanpa jas hujan

Disimpang jalan tugu pancoran

Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda

Si Budi murung menghitung laba

Surat kabar sore dijual malam

Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu

Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”

Sore Tugu Pancoran – Iwan Fals

Ah emosional sekali perjalanan kali ini. Sesampainya di Bekasi di rumah saudara, aku langsung merenung dan istirahat, karena keesokannya musti berangkat ke Tangerang lagi. Tahun baru semalaman aku habiskan di Tangerang, bakar-bakar jagung, udang, gurame, makan-makan, dan juga menjadi babysitter untuk 3 adekku, dan puluhan balita seperumahan, hahaha seru. Malamnya aku berusaha tidak tidur, aku masih perlu waktu untuk merenung, berbagi cerita kebahagiaan dengan seseorang, paling tidak aku membagi kebahagiaan ini dengannya. Diiringi suara kembang api tahun baru, pengen rasanya tinggal di sini lebih lama, namun waktu terus berjalan, I have to go back.

aku harus mengasuh sekitar 15 anak di perumahan tante, but thats fun!

aku harus mengasuh sekitar 15 anak di perumahan tante, but thats fun!

Pukul 14.00 (1/1/2011) aku harus pergi. Aku harus kembali ke Surabaya-Kediri untuk mengejar mimpi. Mimpi tentang nasionalisme yang sebenarnya, mimpi tentang hidup ini, mimpi tentang kehidupan jalanan, mimpi tentang sebuah Bangsa Indonesia yang sebenarnya, dimana keadilan itu nyata dan kemakmuran itu ada!

This is the time, lefting all sweet memories here, goodbye jakarta, may we meet again sometimes, thanks! C’est la vie, vous voir la prochaine fois! Au revoir!

There Must be A Happiness

Posted: January 7, 2011 in Uncategorized

Mardi, avril 27, 2010 …

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menyembunyikannya, biar semua ini terjadi tanpa direkayasa. Setelah sempat meminta saran sobat lama, ya, inilah langkah yang seharusnya aku ambil. Semalam terasa agak emosional, aku ingat seseorang, selain itu obsesi yang dulu muncul makin terasa menguat di diri ini. Mungkin suatu saat aku bisa meraihnya saat aku di Jenewa (mungkin).

lihatlah keharmonisan mereka, sometimes animal instinct is better than human insticnt

lihatlah keharmonisan mereka, sometimes animal instinct is better than human insticnt

Dan apa yang terjadi hari ini, seperti yang aku perkirakan sebelumnya. Pagi-pagi sekitar pukul 05.17 (kalau tidak salah) ada sms yang sudah kuduga, “Fils, il ya peu d’argent dans votre compte” sebentar, aku cek inbox dulu untuk ngopi kata-katanya. Hmmm, begini teks asli dalam bahasa planet lain, ” Joyeux anniversaire, longue vie .. Esperons tu s’agissait toujours du succes .. .. Et je suis desole ne pouvons dire un peu plus tard pour acheter des boulettes de viande ,,deja l’aube ..”. Ah di pagi buta ini, haruskah aku merasakan situasi yang begitu emosional, aku tahu aku mendapatkan lebih, sangat lebih dari itu. Tapi bukan itu yang terpenting, hanya makna dari semua ini. Di saat aku sudah kering akan kemenangan dan kejutan-kebahagiaan, muncul juga oase itu di kehidupan ini. Memang, kehidupan ini seperti roda, yang kadang berada di atas, kadang di bawah, kadang berputar dengan cepat, kadang melambat. Mungkin saat ini aku merasakan putaran yang agak cepat. Tapi seharusnya akulah yang memegang kendali, mau dibawa kehidupanku ini, semua ada di aku. Ah, biarkan hari ini aku merasakan suatu yang berbeda dari hari-hari lain. Yang pasti, di tengah situasi yang agak kurang bersahabat, there still a happiness come round my life.

Ce n’est pas sur la façon dont nous traversons la vie, mais comment pouvons-nous y arriver avec bonheur, il ya vraiment un bonheur. Dieu merci, merci a vous tous ..

La selection naturelle

Posted: January 7, 2011 in Uncategorized

La selection naturelle
dimanche, Avril 11, 2010

gerimis menerpa sebagian surabaya, termasuk lingkungan kos ku sore ini, setelah terbangun sekitar jam setengah enam sore dan menyelesaikan tigaperempat tugas-tugas praktikum, lapar mulai mendera, efek dingin dan memang terakhir kali makan jam 9 pagi (swt)., Awal tujuan spot makanan sudah ditentukan, tempe bakar di ujung gang jalan dharmahusada. Sekedar tau saja, harga sepiring tempe bakar plus nasi dan segelas teh manis kalo dikalkulasikan menggunakan kalkulator casio fx-991MS = Rp 3500 + Rp 1000 = Rp 4500, sangat jauh lebih murah daripada masakan padang di perempatan yang apabila hanya berlaukkan paru/kikil saja habisnya Rp 9000. Dengan semangat bonek berangkatlah ke penjual tempe bakar, sebenarnya dagangan utamanya bukan tempe bakar, namun ikan bakar, meskipun yang aku liat lebih laris tempe bakarnya. Tak peduli gerimis yang agak deras, motor butut supra fit tetangga sebelah dipacu agak kenceng, melawan arus jalanan yang seharusnya searah demi efisiensi perjalanan, hahaha. Ah sial, percuma usaha ini, niat makan 2 porsi tempe bakar pupus sudah, orangnya kagak jualan, gara-gara gerimis mungkin. Oke, tujuan utama dipindah ke nasi goreng jawa di depan penjual sayur lodeh langgananku semester awal dulu,. Selesai sudah sepiring nasi goreng dan segelas es teh seharga total Rp 7500 disantap, buru -burulah aku ke fotokopian dekat kuburan untuk kopi 3 lembar kertas, masih gerimis. Sial fotokopinya jelek, hasilnya buram. Okelah gpp yang penting masih kelihatan (buram), sekarang balik ke kos dengan perut buncit.

Sesampai di depan kos, aku melihat sepasang suami – istri yang tidak begitu asing bagiku. Mereka selalu membawa aroma -aroma yang begitu sedap di gang 3 ini. Wah, lama tak menyantap dagangan mereka, pikirku. Dan aku pun menghampirinya, memesan dagangan mereka, tahu bakar. Aku beli 2 bungkus untuk dibagi sama tetangga kos sebelah, Rp 3000 an dan Rp 2000 an. Aku sedikit tersenyum dalam hati, di tengah gerimis yang agak deras ini, ada juga makhluk cantik yang barengan beli tahu bakar, bawa payung, pake t-shirt kuning celana pendek. Lumayan cantiklah, hahaha. Dia tinggal tepat di depan kos ku, agak jarang keluar memang. Setelah dia pergi, aku sengaja mendekat ke pembakaran si pedagang tahu bakar, untuk melihat lebih dekat. Sumpah, hampir keluar air mata aku melihatnya. Sepasang suami istri ini begitu semangat dengan pekerjaannya. Si suami membakar tahu bakar seharga Rp 200 per tusuk itu, dan si istri membuat racikan bumbu – bumbunya. AKu sering melihat mereka melayani anak-anak kecil di gang ini. Pemandangan yang jauh berbeda ketika aku berangkat cari makanan tadi, sepasang suami istri dengan kijang innova plat W 1 sekian-sekian yang mampir ke ikan bakar agak berkelas di restoran tadi. Hei, itu nasib mereka bung! Usaha mereka berbeda! oke, usaha dan nasib mereka memang berbeda, namun inilah jalan terbaik yang mereka pilih dan mereka ambil, mungkin saja si pedagang tahu bakar pengen menjadi direktur perusahaan namun tidak kesampaian. Apakah kamu tau??? sekitar 2 tahunan yang lalu ketika aku juga membeli tahu bakar ini, aku melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pengendara sepeda motor berhenti dan menyapa si bapak pedagang tahu, ” Pak guru, gimana kabarnya?”. Ya, sejak saat itu aku mulai menyimpulkan bahwa si bapak penjual tahu bakar adalah seorang guru SD, entah guru les, honorer, atau meemang sudah diangkat jadi guru. Hmmm, sampai begitu usaha seorang bapak dan ibu untuk menghidupi keluarganya. Aku tidak tahu apakah mereka sudah punya anak atau belum, yang pasti ketika orang-orang di kota ini sudah mulai berhenti bekerja dan beristirahat, mereka masih berkutat untuk berjualan dagangannya seharga Rp 200 per tusuk itu, dengan sepeda jengki dan pembakaran sate dibelakangnya, tak peduli gerimis agak deras menerpa, mereka membuka payungnya. Ya. Inilah kehidupan. Seleksi alam, siapa yang kuat, mereka yang mampu bertahan, dengan cara mereka sendiri. Aku salut dengan mereka. Mereka begitu semangat mencari laba yang tergolong sangat kecil untuk menghidupi keluarganya, bekerja siang-malam demi anak-anaknya. Aku juga berpikir, apa yang terjadi pada diriku satu-dua tahun lagi, bagaimana aku menghadapi seleksi alam ini.

Sesampai kamar kos, aku langsung menulis tulisan ini, tugas tugas kuliah sementara aku singkirkan, aku masih begitu semangat menulis kisah ini. J’espere qu’un jour la justice se posent pour la vie, qui est capable de guider un homme saisi d’un reve qu’ils veulent, comme de leur travail, la selection naturelle.

Lundi, Avril 27, 2009

What a fresh day,. Bangun pagi, nyalain laptop dan mendengarkan beberapa lagu, yang urutannya aku masih ingat betul ( lagu-lagu yang mengiringi renunganku pagi ini,hahahha):
1. Could it be any Harder – The Calling
2. Crazy – Simple Plan
3. Yellow – Coldplay
4. It’s not Easy – Five for Fighting
5. Vindicated – Dashboard Confessional

istriku sementara ini

istriku sementara ini

Tak terasa, semua perlahan-lahan mulai kutinggalkan. Teman-teman main waktu kecil, lapangan kosong belakang rumah tempat dahulu main sepak bola sama teman sekitar, sekolahan dari SD SMP SMA, teman-teman sma, dimana dulu kita sering bolos, main kesana main kesini (hampir tiap sabtu), asyik ngeband yang mana lagu-lagunya gak ada yang jelas,hahaha. Dikit demi sedikit perasaan masa lalu itu muncul kembali. Pengen sekali kembali ke waktu itu, dimana yang kurasakan benar-benar bersenang-senang, tidak ada tuntutan ini-itu, tak ada paksaan harus melangkah kemana. But life’s go on, tidak bijak kalau kita hanya melihat masa lalu (wow).

We are learn to fly by now (edited by Rizqi M.A.S)

We are learn to fly by now (edited by Rizqi M.A.S)

Tak terasa,sudah semakin lama aku menginjak bumi yang tua ini. Mungkin akhir-akhir ini aku belum bisa menikmati hidupku, tapi aku harap mulai besok aku mulai menikmatinya. Menikmati dan mencoba mensyukuri apa yang telah kuraih dan kudapatkan , apapun hasilnya. Tout ce que je vais est le meilleur pour moi.

Tak terasa, aku harus segera mengambil sikap dan keputusan mengenai masa depanku, dan aku harus segera menyadari bahwa waktu semakin mendekat. Tinggal beberapa jam, aku masih berharap ada beberapa petunjuk yang menuntunku memilih jalan yang benar, bukan, bukan jalan yang benar, jalan yang paling baik yang bisa aku lewati. J’ai passé ce jour à mémoriser ce que j’ai fait, qu’est-ce que le meilleur moyen, je veux choisir, je souhaite le meilleur pour moi, six heures de gauche.

Today, I really moved, surprised, J’ai déménagé…. really familier à avril..Thx God, thx all…