Stay Backpacking : Street Nationalism (Jakarta)
Dimanche, Janvier 2, 2011 gerimis
…
Usai sudah perjalanan singkat ini. Semua berawal dari sebuah keinginan kuat untuk pergi ke ibukota Jakarta, yang awalnya hanya sebuah bentuk apresiasi nyata kepada sebuah tim sepakbola nasional, yang sudah lama merindukan kemenangan. Ketika itu, muncul pikiran untuk menjadi saksi mata kemenangan tim nasional Indonesia, setelah mengalahkan tim Filipina dengan agregat 2-0. Lawan selanjutnya, ya, Malingsia. Bangsa kontroversial yang diciptakan di bumi yang indah ini. Ah menarik nih lawan di final, pikirku. Pertandingan yang tentu saja akan menarik untuk ditonton, bukan hanya masalah permainannya, namun karena unsur politisnya, bahwa banyak sentimen negatif sejak dulu antar dua bangsa ini. Sama seperti yang berkecamuk di pikiranku. Andai dulu Bung Karno benar menghancurkan negeri itu, mungkin saja tidak ada tenaga kerja yang disiksa dan disengsarakan di sana, tidak ada budaya bangsa kita yang dicuri, tidak ada petugas perbatasan kita yang ditangkap dalam tugasnya menjaga perbatasan. Ah benar-benar kecewa dengan usaha diplomasi Marty Natalegawa saat itu, Anda terlalu banci bung, Anda seharusnya bisa bertindak lebih bijak dalam menghadapi seorang maling, karena ingat, pasti ada yang salah dengan seorang maling, kemungkinan melakukan hal yang sama (maling) bisa terjadi kapan saja, harusnya Anda memberi pelajaran tegas buat bangsa maling, agar kapok, agar mereka berhenti meremehkan kita. Jancok maling! Lihat cuplikan perkataan Bung Karno :
“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu. Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya. Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo… ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia…
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!”
Kembali ke topik awal. Dengan semangat bonek, aku berangkat sendirian dari Surabaya ke Jakarta. Bukan karena tidak mengajak teman, tapi rencana awal gagal, gara-gara tiket final yang sangat susah didapat layaknya mencari minyak tanah di masa ini. Semua gara-gara panitia penyelenggara final di Gelora Bung Karno yang menurutku sangat tidak becus, sangat tidak profesional, tidak layak menyelenggarakan final sebesar ini! Katanya mau menyelenggarakan Piala Dunia? hahaha bodoh. Setelah percobaan pertama mendapatkan tiket gagal, akhirnya aku menghubungi salah satu sahabat lama di Jakarta untuk pesan tiket, dan alhamdulilah ternyata ada, dengan harga yang tidak masuk akal, tertera di tiket Rp 150.000,- dan harus aku tebus dengan Rp 275.000,- . Oh Tuhan.. aku tidak mempermasalahkan masalah percaloan, mereka juga manusia berhak mencari uang untuk makan, yang benar-benar aku sesalkan, seakan-akan panitia memang memberi celah untuk terjadi praktik percaloan ini. Ingat Bung, final AFF ini seharusnya untuk rakyat, untuk kegembiraan rakyat, untuk kebanggaan rakyat Indonesia, kapan lagi mereka bisa merasakan kebanggaan yang teramat sangat menjadi bangsa Indonesia kalau bukan pada momen-momen seperti ini, Masya Alloh, sungguh bangsa bedebah .. Kebahagiaan dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia ini harus ditebus sebegitu mahal, bayangkan, semua elemen masyarakat bangsa Indonesia membutuhkan kebanggan ini, bukan hanya pejabat, namun tukang becak, asongan, kaki lima, mahasiswa semua membutuhkan! Sebegitu susahnya kah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kebanggaan di negeri ini?? Masya Alloh..
Tekat sudah bulat, tiket sudah didapat, siap untuk berangkat. Pagi hari sekitar jam 8 pagi tanggal 28 Desember 2010, aku pergi ke Stasiun Gubeng untuk membeli tiket kereta ekonomi jurusan Surabaya -Jakarta, kereta Gaya Baru Malam Selatan, tiket cukup terjangkau, Cuma Rp 33.500,- untuk jarak tempuk sekitar 674 km dengan konsekuensi rebutan tempat, dengan yang bernasib sama, orang –orang modal cekak. Kesan pertama langsung didapat ketika pembelian tiket, Bapak petugas loket tanya “ Mau nonton bola, Mas?”, hahahaaa sial, emang aku pake tampang bonek ya beli tiketnya, tau aja si Bapak. Hahaha ..

tiket yang terpaksa harus ditebus seharga Rp 275.000,-

tertulis di tag, harga resmi Rp 150.000,-
Kereta berangkat pukul 14.00 kurang. Ketika aku sampai stasiun aku sempat kaget, buset banyak banget yang mau ke Jakarta, bisa gila ini kalau tidak dapat tempat duduk. Akhirnya dapat ide, melompat ke dalam kereta saat kereta masih jalan (cukup kencang, sampai aku terlempar berlawanan pintu toilet, dan aku yakin menjadi orang pertama yang masuk kereta, pertamaxxx gan! Hahahaa bonek banget). Setelah dapat tempat duduk paling potensial baru aku berpikir, berani sekali tadi bertindak seperti itu, aku ragu bisa melakukannya lagi, semua itu demi timnas Indonesia!
Di dalam kereta, setelah ngobrol kanan-kiri, dapet temen bicara yang enak, seorang sopir angkot di daerah Jakarta (aku lupa namanya). Baik sekali orangnya, baru aja beberapa menit masuk kereta, sudah dibelikan tahu goreng, pecel madiun, ditawari kopi, rokok, ah sial ternyata masih ada orang baik sekarang ini. Inilah yang aku suka, ketika naik kereta ekonomi. Seakan-akan persaudaraannya begitu kuat, semua bernasib sama, bertujuan sama, saling berbagi, saling menghargai sesama. Di malam harinya, lorong tempat jalan sudah penuh dengan orang tidur di bawah dengan alas koran, yang menarik, bahkan bagasi atas pun jadi tempat tidur! Hahahaa sungguh merakyat.
Setelah hampir menghabiskan 18 jam perjalanan di kereta, akhirnya sampai juga Stasiun Jatinegara. Ketika turun, aku baru sadar bahwa di gerbong paling belakang dan di kepala lokomotif, banyak orang memakai kaos timnas Indonesia, spontan aku teriak “sampai jumpa di GBK mas”, mereka dengan semangat, bersama penumpang lain berteriak “Pasti juara mas! Juara!”, dan seketika itu aku termenung, merasa bahwa aku menjadi orang yang paling bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia ini. Ketika turun juga, aku dicarikan angkutan yang paling murah oleh sopir angkot tadi, dan akhirnya diputuskan naik bajaj seharga Rp 15.000,- (masih teringat perkataannya ke sopir bajaj “Mas tolong temen saya ini mau nonton bola dan duitnya tinggal Rp 15.000,-”, belum tau dia kalau aku bawa duit seratus juta, ahhaha bercanda.com). Akhirnya sampai Jl. Pramuka daerah Matraman, tempat kerja seorang teman, yang sejak sebelum datang ke Jakarta dan sepulangnya dari Jakarta, rela direpotkan oleh kehadiranku -terimakasih banyak teman,saya bangga mempunyai teman seperti Anda-. Setelah itu diantar ke kosnya, dan istirahat, menunggu sore.
Sore hari aku berangkat ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, dengan seorang teman yang baru aku kenal saat itu juga. Di jalan-jalan, banyak sekali supporter-supporter berangkat juga menuju GBK, begitu bersemangat. Sesampainya di GBK, benar-benar seperti lautan merah manusia,supporter dari berbagai penjuru Indonesia bersatu,mulai dari yang sudah dapat tiket, sampai ribuan orang juga yang tidak dapat tiket namun nekat datang ke GBK. Di sinilah nasionalisme benar-benar terpacu,bagaimana tidak, bayangkan bahwa ada suatu kondisi dimana orang-orang dari berbagai elemen masyarakat bersatu, dari pedagang asongan, kaki lima, pengangguran, mahasiswa, pejabat, dan presiden! Sungguh acara yang teramat langka, selain itu, kapan lagi keadaan dimana Bonek Surabaya, Aremania, Tha Jak, Viking, dan semua suporter dari tim-tim di Indonesia rukun bersatu saling menghargai, kalau bukan di even seperti ini!

para supporter menunggu masuk stadion

Kamidia Radisti, dulu saya sangat ngefans sama dia (sampe sekarang --a)

menuju ke dalam stadion

suasana antrian masuk pintu gerbang luar

sebagian kemegahan dari Stadion Utama Gelora Bung Karno
Ketika aku masuk stadion, aku kagum, aku bangga, aku terharu, sampai juga aku disini dengan modal nekat. Sekitar pukul 16.00 stadion sudah lumayan penuh, padahal kick off dijadwalkan jam 19.00. Nah ini bagian yang amat berkesan, ketika kick off akan dimulai dan dikumandangkan lagu Indonesia Raya, sekitar 95 ribu penonton di dalam stadion (disebutkan panitia), dan ribuan yang di luar dan tidak kebagian tiket, menyanyi bersama lagu nasional ini, siapa yang tidak tergetar mendengar ratusan ribu orang menyanyikan lagu Indonesia Raya secara kompak bersama-sama! Benar-benar nasionalisme dari hati.

Anda akan menjadi seorang yang sangat bangga menjadi bagian dari Indonesia ketika berada di sini

syahrini pun tak mau ketinggalan
Pertandingan berlangsung, permainan yang cukup bagus untuk timnas, usaha yang cukup bagus juga, skor 2-1 buat Indonesia, meskipun kita tidak juara, kita seorang runner up yang terhormat, dengan supporter yang keseluruhan fair, dengan tim yang fair juga. Percuma juara, kalau berlaku curang, berlaku kampungan, maling akan selalu curang. Aku menyindir seorang bangsa. Tidak perlu melihat perayaan juara. Siapa rela **sensor**.

pemanasan sebelum kick off

detik-detik ketika tendangan penalti Firman Utina gagal

ketika tercipta gol kedua, inilah kemenangan kita bersama

skor akhir, timnas telah melakukan yang terbaik

pesan dari suporter SELURUH INDONESIA
Keesokan harinya, aku sendirian ke sebuah warung. Di sana ngobrol dengan seseorang, yang nyatanya adalah seorang wartawan (lupa nama medianya). Kita bercerita tentang final kemaren. Dia sempat mengatakan ketika dia meliput, tempat yang seharusnya menjadi hak wartawan, banyak berubah. Bahwa banyak wartawan harus berdiri di tribun yang menjadi haknya, dan harus rela diisi dengan orang asing non wartawan, yang menurut dia keluarga pejabat. Bedebah! Beginikah keadilan di negeri ini! Kapasitas stadion yang seharusnya kurang lebih 85 ribu penonton, diumumkan di dalam stadion bahwa penonton di dalam stadion kali ini berjumlah 95 ribu, berada di mana dan dapat tiket dari mana yang 10 ribu orang?? Entahlah.
…
Setelah itu (30/12) aku mengajak teman untuk mengantar keliling jakarta,menelusuri ibukota yang katanya keras, lewat daerah-daerah yang sebelumnya cuma bisa dibayangkan dari TV, pemberhentian terakhir di Kota Tua, lumayan melepas penat, sempat beli cindera mata jalanan gara-gara teman setia yang menemani selama di Jakarta ini beli, ikutan deh. Dia beli awalnya aku kira untuk pacarnya, nyatanya tulisan yang ia buat : “ Damn! I love Indonesia ..” hahahaa nasionalisme tanpa batas, ingat bro, aku menyumbang tanda seru buat tulisan itu, hahaa. Sedangkan yang aku beli, tulisannya -rahasia donk-, lumayan nih buat iseng-iseng oleh-oleh. Setelah itu berangkat ke Bekasi, sial ternyata jarak begitu jauh, di luar perkiraan, kasihan juga yang nganter -maaf bro, saya beneran tidak tahu-.

seorang pedagang dari Purwokerto yang mengadu nasib ke Jakarta
Di jalan, di luar dugaan, aku melewati daerah yang tidak asing di mata dan pikiranku, Tugu Pancoran! Padahal sebelum berangkat, ada 3 spot yang setidaknya menjadi targetku. GBK, Pancoran, dan Kota Tua. Nyatanya semua terlaksana, komplit. Kenapa pengen melihat Tugu Pancoran? Terus terang dari kecil penasaran dengan lirik lagu Iwan Fals – Sore Tugu Pancoran, liriknya benar benar menyentuh hati, ketika melintasi Tugu itu, terus terang aku terharu, hampir berkaca-kaca, untungnya belum .. Cuplikan lirik Iwan :
“Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”
Sore Tugu Pancoran – Iwan Fals
Ah emosional sekali perjalanan kali ini. Sesampainya di Bekasi di rumah saudara, aku langsung merenung dan istirahat, karena keesokannya musti berangkat ke Tangerang lagi. Tahun baru semalaman aku habiskan di Tangerang, bakar-bakar jagung, udang, gurame, makan-makan, dan juga menjadi babysitter untuk 3 adekku, dan puluhan balita seperumahan, hahaha seru. Malamnya aku berusaha tidak tidur, aku masih perlu waktu untuk merenung, berbagi cerita kebahagiaan dengan seseorang, paling tidak aku membagi kebahagiaan ini dengannya. Diiringi suara kembang api tahun baru, pengen rasanya tinggal di sini lebih lama, namun waktu terus berjalan, I have to go back.

aku harus mengasuh sekitar 15 anak di perumahan tante, but thats fun!
Pukul 14.00 (1/1/2011) aku harus pergi. Aku harus kembali ke Surabaya-Kediri untuk mengejar mimpi. Mimpi tentang nasionalisme yang sebenarnya, mimpi tentang hidup ini, mimpi tentang kehidupan jalanan, mimpi tentang sebuah Bangsa Indonesia yang sebenarnya, dimana keadilan itu nyata dan kemakmuran itu ada!
This is the time, lefting all sweet memories here, goodbye jakarta, may we meet again sometimes, thanks! C’est la vie, vous voir la prochaine fois! Au revoir!